PETISI UNTUK ITS

20 03 2010

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan menganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: Lawan!
(Wiji Thukul)

Saya mengenal Yuli, Tommy, dan Benny hanya sesaat. Yuli seorang mahasiswi yang energik dan antusias. Tiap kali bertemu selalu ada yang digelisahkan. Tentang ketidak-adilan atau mahalnya biaya pendidikan. Sedangkan Tommy beberapa waktu lalu mampir ke kantor. Pria muda yang tenang dan sedikit gundah. Mengadukan putusan skorsing yang dikeluarkan oleh kampusnya. Sebuah kampus yang mengantarkan Rektornya menjadi menteri komunikasi. Kampus yang mahir dalam banyak temuan tekhnologi. Kampus yang sepadan derajadnya dengan kampus-kampus ternama lainnya.

Saya beberapa kali mampir ke kampus ITS. Menjadi pembicara pada tempat yang sama. Dari soal BHMN hingga riset. Mahasiswanya pintar, berani dan tertib. Mereka selalu menjemput di bandara dengan kebanggaan. Jas almamater dan berkisah tentang kampusnya. Sebuah tempat yang menyenangkan meski ada kegundahan. Diantara gundah itulah Yuli, Tommy, dan Benny menjadi pemukanya. Mereka merasa perih melihat sikap kampus yang ‘diam’ pada kasus Lapindo. Mereka ingin kampus jadi pembela warga yang jadi korban. Wibawa dan popularitas ITS mustinya mampu berbuat lebih. Tak sekedar riset apalagi sekedar pendataan. Kampus itu semustinya bisa bersuara lantang dan memihak. Yuli, Tommy, dan Benny merasa sukar menerima sikap netral kampus ITS. Apalagi ada kecurigaan kampus mempermainkan korban.

Mustinya ITS beruntung masih punya mahasiswa yang kritis dan bernyali. Harusnya ITS bangga karena ada mahasiswa yang berontak. Atas sebuah situasi yang menyimpan ketidak-adilan. Terhadap kondisi sosial yang hingga kini tak mampu dibereskan. ITS melalui mereka diingatkan kembali tentang tanggung jawab Perguruan Tinggi. Bukan sekedar mengantar seseorang jadi sarjana melainkan juga punya mandat perubahan. Sayangnya ITS memilih untuk tidak bersikap seperti itu. Mereka beranggapan anak-anak belia yang pintar dan kritis ini patut dihukum. Mereka menganggap hukuman skorsing adalah balasan yang setimpal. Agak janggal: Menteri Komunikasi mantan Rektor ITS tampaknya tak bisa mengajarkan pada pewarisnya, ‘cara berkomunikasi’ yang baik.

Rektor baru yang titelnya berderet juga mengambil sikap yang sama. Ternyata benar kepintaran dan kematangan emosi tak bisa bersanding. Gelar Professor bukan memberi petunjuk tentang kearifan. Malah dengan gelar itu ketetapan skorsing tak bisa diubah. Agak menggelikan karena ITS sering menyelenggarakan training ESQ. Training yang digunakan untuk menyambut mahasiswa baru. Sebuah pelatihan yang mendidik orang untuk bisa tabah, sabar dan tawakal. Ternyata hasilnya adalah putusan kasar, naif dan emosional. Tak sedikitpun ada bekas keteduhan dan kematangan emosi. Jangankan itu: ratusan protes yang dikirim tak membuat putusan itu diubah. ITS konsisten untuk memegang ketetapan skorsing. Kampus ini ternyata menyimpan tekhnologi ‘ketidak-pedulian’ yang sempurna.

Mungkin mereka kurang membaca sejarah. Kisah tentang kampus-kampus ternama yang berisikan mahasiswa pemberani. Soal Che Guevara yang menjadi mahasiswa pencetus revolusi Kuba. Negeri yang hari ini dibangun tanpa hutang sepersenpun. Tentang Soekarno yang berani memprotes semua kebijakan kolonial. Amat keterlaluan kalau birokrat ITS tak kenal dengan nama ini. Kisah mengenai mahasiswa Trisakti yang gugur untuk perubahan. Karena tangan mereka-lah Rektor ITS kini menjabat menteri. Melalui siraman darah para aktivis mahasiswa kampus ITS mendapat porsi kekuasaan. Hukuman untuk Yuli, Tommy maupun Benny membawa ITS meluncur mundur. Kampus ini mengulang kembali apa yang dikutuk oleh Sjahrir, Hatta maupun Soekarno. Kampus hanya jadi penyimpan tenaga budak dan tempat yang sunyi dari pergerakan. Andai kampus hidup dengan mesin ketaatan maka lingkungan kampus akan mirip seperti makam.

Tempat dimana mahasiswanya kian lama kian mirip satu sama lain. Belajar terlampau rajin. Kuliah tanpa mengenal kenyataan. Tembok dan bangunan megah hanya seperti sebuah arca. Karena yang menghuni bukan lagi manusia. Pribadi yang semustinya memiliki kepekaan, akal sehat dan solidaritas. Yang tertinggal hanya pribadi yang susah menerima kritik, perbedaan apalagi tuntutan akan tanggung jawab sosial. Pertanyaan yang kemudian terlontar: untuk apa kampus ini terus berjalan? Untuk kegunaan apa kampus ini dibangun secara megah? Jika derita rakyat tidak mampu didengar apalagi dibela. Jika tiga orang mahasiswa yang mengkritik kemudian dihardik dengan hukuman? Saya kadang heran mengapa kampus ini jadi bertindak tidak senonoh.

Tahukah kampus ini tentang Bung Tomo. Pria muda radikal yang mengobarkan revolusi Surabaya. Usianya tak lebih 17 tahun. 12 Oktober 1945 ia mendirikan Radio Pemberontakan di Surabaya. Janjinya luar biasa: ‘rambutnya tak akan dipotong sebelum Indonesia merdeka penuh’. Melalui tangan dan ucapanya pertempuran 10 november jadi membara. Karena perjuangan ia dan beberapa kawanya, kampus ITS berdiri di Surabaya. Tommy, Yuli, Benny dan kawan-kawanya hendak meneruskan apa yang dilakukan oleh Bung Tomo. Meneguhkan sikap merdeka dan melawan segala ketidak-adilan. Sangat disayangkan ITS melayangkan surat hukuman pada ketiganya. Bung Tomo dulu berhadapan dengan NICA. Sekutu yang membonceng dan tak ingin Indonesia merdeka. Kini Tomy dan kawan-kawanya berhadapan dengan orang yang berkulit sawo matang. Pribumi. Bangsanya sendiri. Malah diantaranya adalah gurunya.

Sekali lagi, kita tak bisa diam. ITS mustinya diingatkan kembali akan mandatnya. ITS sebaiknya berkaca pada sejarah. Sejarah dimana pendidikan akan selalu bergulat dengan perubahan sosial. Sejarah dimana kampus tempat melatih dan lahirnya seorang pemimpin. Dan pemimpin muncul ketika dihadapkan pada kenyataan sosial yang pahit. Disana terletak dua pilihan: menjadi kekuatan yang berhamba pada modal atau jadi pembela korban. Tommy, Yuli Benny ingin menjadi yang terakhir. Sayang kampus tak melindungi moralitas yang agung ini. Kampus ITS nyatanya lebih memilih untuk menghukum suara keadilan ini. Kita yang ada di dalam maupun di luar tak boleh sekedar prihatin. Waktunya kita menyatakan perlawanan. Saatnya kita menyerukan apa yang dulu dikerjakan oleh Bung Tomo. Nyatakan tidak terhadap setiap pembungkaman nurani. Kepalkan tangan kita untuk menonjok siapapun yang mencoba mengakimi kebenaran. Sekali lagi: kita jangan diam! Di hadapan kebenaran tak ada sikap netral! []

Ditulis Oleh: Eko Prasetyo

Tulisan tersebut sebagai bentuk solidaritas atas ketidakadilan yang menimpa ketiga mahasiswa ITS (Tommy, Yuli, dan Benny) yang diskorsing selama 2 semester pasca menggelar seminar jalanan: Perselingkuhan Pemodal – Pemerintah – Kampus Dalam Kasus Semburan Lumpur Lapindo pada tanggal 6 Maret 2007 di depan Rektorat ITS

Eko Prasetyo adalah seorang pemerhati pendidikan, penulis beberapa buku seri dilarang miskin (Orang Miskin Dilarang Sekolah, Orang Sakit Dilarang Sekolah) dll

**Tulisan ini saya copy-paste untuk sekedar mengingatkan pada pihak birokrat dan Keluarga Mahasiswa ITS akan sebuah perjuangan dan pengorbanan. Dan untuk sahabatku yang sedang memperjuangkan kebenaran atas ketidakadilan pihak birokrasi (lagi). Semua untuk 1 kata : Idealisme! Yang tak boleh mati (lagi).


Actions

Information

7 responses

21 03 2010
aRuL

sekarang semakin hari mahasiswa semakin dijauhkan dengan esensi idealisme, masing2 hanya mengejar namanya kepuasan masing-masing, sampai idealismepun terabaikan…

sekalian menjawab pertanyaan di blog saya, untuk tertulis sih coba buka di Buku Mubes III, di situ tersurat sebagian dari perkembangan ormawa di ITS dari dulu…
namun hal itu tentunya belum lengkap, soalnya sy juga lebih banyak mendengar dari senior2/alumni2 ITS tentang perkembangan organisasi mahasiswa ITS..

21 03 2010
Fahmi

trimakasih mas..
saia hanya punya copy an nya…dan memang dri situ tidak tersurat secara lengkap sepertinya…

Hidup Mahasiswa..

VIVAT…!

22 03 2010
edda

Ya Allah, semakin mmprihatinkan saja😦

4 04 2010
nadiafriza

i like the post🙂
sebenernya ga cuma ITS kok yang kayak gitu.. mungkin emang jamannya yang udah beda ama taun 98
semangat!

6 04 2010
Mie

@edda:doakan saja..smoga badai cpat berlalu..
@nadiafriza : yup..thanx,, tetap semangatz..

31 05 2010
nada

apa sampai sekarang ITS belum berbuat sesuatu lagi mas? terus nasib mahasiswa-mahasiswa itu gimana?

1 06 2010
Fahmi

hmm,, sebenernya tu kejadian 4 tahun lalu… dan mahasiswanya pun sekarang masih kull seperti biasa mungkin,, atau bahkan udah lulus… kan udah 4 tahun berlalu..ho2…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: