need a break

12 11 2010

Di akhir bulan oktober dan awal bulan november ini benar benar banyak menguras waktu dan tenaga. Banyak sekali kegiatan yang sudah dan akan saya kerjakan pada waktu itu. Gak tahu kenapa saya seperti keranjingan/addicted dengan kegiatan yang non akademik atau tidak berpengaruh dengan IP. Sampai keranjingan nya saya pernah merelakan tidak ikut kuliah demi kelancaran kegiatan itu *my bad.  Saya akui saya memang paling sulit me-manage waktu. Saya paling sulit membagi waktu prioritas dan yang tidak prioritas. Kebanyakan malah jadinya memprioritaskan waktu yang tidak prioritas. Hadeeh,,saya harus banyak banyak belajar kepada orang yg ahli dalam menbagi waktu.

Contohnya kegiatan yg saya ikuti selama berlangsungnya acara Dies Natalis kampus saya yg ke 50 tahun. Rangkaian kegiatan non akademis nya banyak sekali, ada juga yg berbau seni dan budaya. Contohnya saja Pesta pitung dino pitung wengi atau bahasa Indonesia nya Pesta Tujuh Hari Tujuh malam yang merupakan rangkaian acara seni dan budaya seperti konser GIGI, wayang kulit, musik kontemporer dan lain lain. Sebenarnya saya masih bisa mengatur waktu saya di acara yang seperti itu karena diadakan malam hari dan kebetulan saya sebagai penggembira nya. Jadi saya menonton yang kelihatanya ‘jarang’ saya lihat seperti konser GIGI dan wayang kulit.

Masalah datang ketika saya menjadi panitia dalam rangkaian acara Dies Natalis di kampus saya. Saya kebagian ikut menjadi commite Internasional University Presidential Forum (IUPF). Acara tersebut merupakan forum para rektor / president of university di berbagai negara dimana output nya berbagai universitas dapat mengadakan suatu kerjasama dalam berbagai bidang dan menghasilkan MoU atau letter of agreement pada umumnya dan menjadikan kampus saya sebagai pusat kerjasama dengan berbagai universitas di kawasan Indonesia timur sehingga universitas di Indonesia Timur bisa ikut berkerja sama dengan universitas luar negri melalui kampus saya. Menjadi salah satu commite di acara ini sebenarnya dari kesalahan penafsiran teman saya yang dengan tidak sengaja mendaftarkan saya ikut menjadi bagian dari commite. Tapi ya sudahlah, saya sudah terlanjur tercantum di daftar nama, dan saya tidak mau menghabiskan tenaga saya untuk blamming teman saya tadi.

Menjadi commite IUPF sebenarnya sama dengan menjadi Liasson Officer di suatu international confference. Kita bertanggung jawab mengantarkan tamu, menemani tamu, bertanggung jawab di meja registrasi, menjadi ujung tombak yang pertama kali jika ada peserta yang complaint, harus sabar menghadapi peserta yang rewel minta macem-macem dan lain lain. Sebenarnya banyak sih pelajaran dan pengalaman yang kita dapat kalau mengikuti acara seperti ini. Kita jadi bisa tahu budaya orang dari berbagai macam negara, tahu berbagai macam bahasa dan melatih speaking english kita dengan orang luar,dapet info summerschool or beasiswa dengan berkenalan pada pejabat universitas luar negri dan lain lain. Tapi yang sangat amat disayangkan adalah saya menjadi commite diwaktu saya sedang melaksanakan UTS. Ya, anda tidak salah baca, UTS, Ujian Tengah Semester. Ujian yang sangat amat berpengaruh terhadap IP anda dan hidup atau matinya keberlangsungan beasiswa yang anda dapatkan.  Sekali IP turun,  maka besiap siaplah anda mencari beasiswa yang lain *halah. Jadi saya harus benar benar responsible terhadap 2 tanggungan penting yang harus dilaksanakan dengan baik.

Tugas pertama saya waktu itu adalah menjemput Prof Said Irandoust di bandara Juanda. Beliau adalah president of Asian Institute of Technology (AIT) di Thailand . AIT itu kaya ITB nya Thailand lah. Umurnya juga sama dengan ITB, 51 tahun. Beliau dari Thailand harus transit dulu di Jakarta, lalu baru menggunakan Garuda menuju Surabaya. Lah, yang namanya pesawat domestik itu emang lelet banget. Delayed nya berkali kali dan membuat saya capek menunggu sekitar 4 jam meleset dari jadwal nya. I am not blamming the volcano eruption, tapi mbok ya kalo mau delayed tu bilang bilang dulu ya.  Jadi saya bisa belajar untuk UTS di bandara sembari menunggu. Nah, untungnya si prof Said ini orangnya ramah dan enak diajak ngobrol. Beliau juga sabar menghadapi birokrasi bandara di Indonesia yang mbulet abis. You know what , he said that Surabaya is better than Bangkok. Especially for managing the traffic jam and polution. FYI,  AIT itu sebenarnya dibuat oleh united nations (PBB) dulunya, dan kebetulan ditempatkan di Thailand. Banyak banget foreign students disana, bahkan Prof Said ini bukan orang Thailand, tapi blasteran Kazhakastan dengan Ingrris.  Jadi gak heran kalau banyak mahasiswa Indonesia yg kuliah disana, bahkan ada juga dosen di kampus saya yg lulusan AIT. Setelah sampai di Hotel Makapahit, panitia pun segera meberikan rundown acara IUPF dan make sure semuanya beres. Btw, tahu kan hotel Majapahit di Surabaya? Hotel legendaris dimana dulunya ada aksi perobekan bendera belanda yang berwarna merah-putih-biru menjadi merah putih. Ya namnya juga Institut Teknologi Sepuluh Nopember, peristiwa heroik sepuluh nopember lah yang menjadi semangat para pendiri mendirikan kampus ini. Dan hotel Majapahit dianggap cocok untuk ikut serta dalam event yang diadakan saat dies natalies yang tepat jatuh pada tanggal sepuluh nopember.

Pada hari kedua saat acara berlangsung lebih seperti seminar. Para rektor atau perwakilan dari setiap universitas memaparkan tentang latar belakang universitas nya dan kerjasama apa saja yang akan dibahas. Sebenarnya ini adalah inti dari acara IUPF ini dan tugas commite menumpuk di hari tersebut. Padahal di sisi yang lain saya ada UTS di hari tersebut. Parahnya yg UTS tidak hanya saya saja. Tetapi mahasiswa lain jurusan juga bernasib seperti saya. Akhirnya saya dan teman teman pun bergantian bolak-balik jurusan – graha. Waktu UTS pun saya masih belum 100 % konsentrasi pada ujian. Begitu pula sebalikya, saat bertugas pun saya malah memikirkan UTS. Bener bener parah banget.Untungnya acara IUPF berjalan lancar . Tapi sepertinya tidak dengan UTS saya 😦 Read the rest of this entry »





Siapa Rektor ITS Berikutnya ?

19 09 2010

Libur lebaran telah usai.Para mahasiswa dan dosen pun kembali ke kampus untuk menjalani kewajibanya sebagai pengajar dan orang yg diajar.Tapi saat ini berbeda dengan yang biasanya.Saat mereka saling bersalamaan dan bermaaf-maafan,di sisi yang lain beberapa orang yang lain saling berkompetisi memperebutkan kursi ITS 1 *dibaca rektor ITS. Ya, memang benar, saat ini di kampus memang sedang hangat-hangat nya event Pilcarek ITS (Pemilihan Calon Rektor ITS).Semua elemen mulai dari dosen, karyawan dan mahasiswa mempunyai hak suara untuk memilih 11 bakal calon rektor ITS. Tetapi suara terbanyak dari hasil pilcarek belum pasti menentukan sang pemilik suara terbanyak otomatis menjadi Rektor ITS selanjutnya.Adalah Senat ITS yang akan menentukannya dan kemudian akan dikirimkan ke menteri pendidikan nasional untuk disetujui. Berikut adalah jadwal pemilihan calon rektor ITS :

Sudah ada beberapa bakal calon rektor yang mulai berkampanye memasang spanduk, poster, selebaran di sudut dan tempat strategis di kampus. Bahkan ada juga yang langsung mengirim email & sms kepada pemilik suara. Saya masih membayangkan, sebenarnya apa motivasi mereka hingga rela berkorban materi,waktu dan tenaga hingga rela mencalonkan diri menjadi rektor ITS selanjutnya. Apakah mereka mengincar materi ? pangkat ? gengsi ? menteri ? ataukah mereka tulus mengabdi demi kemajuan kampus tercinta? Berikut adalah 11 bakal calon Rektor ITS beserta link blog or website nya :

Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD (FTSP/rektor incumbent/ketua Senat ITS)
Prof Dr Ir Nadjadji Anwas MSc (FTSP/mantan Dekan FTSP)
Prof Ir Noor Endah MSc PhD (FTSP/mantan Pembantu Rektor I)
Dr Agus Windharto DEA (FTSP/mantan Kajur Despro)
Prof Dr Ir Imam Robandi MT (FTI//dalang)
Prof Dr Ir Mahfud DEA (FTI/mantan Pembantu Dekan I FTI)
Mochammad Hariadi ST MSc PhD (FTI)
Dr Ir Sumarno M.Eng (FTI/Sekretaris Jurusan FTI)
Prof Dr Ir Triyogi Yuwono DEA (mantan Dekan FTI/mantan kajur Teknik Mesin)
Prof Ir Daniel Mohammad Rosyid PhD (FTK/mantan Pembantu Rektor IV)
Drs Mahmud Mustain MSc PhD (FTK)

Sebagai mahasiswa, tentu kita harus selektif terhadap siapa yang akan kita pilih nanti. Khususnya kepada para mahasiswa baru yang belum mengetahui sejarah dan sepak terjang para bakal calon rektor ITS. Untuk itu mari kita flash back sejenak melihat rektor ITS terdahulu. Berikut nama beserta asal fakultas nya :

Rektor ITS 1960-SEKARANG

Dr Angka Nitisastro 1960-1964 (Salah seorang pendiri)
Kol Laut Ir Marseno Wirjosapoetra 1964-1968 (Penugasan pemerintah)
Prof Ir R Soemadijo 1968-1973 (FTSP)
Mahmud Zaki MSc 1973-1982 (FMIPA)
Ir Hariono Sigit BS 1982-1986 (FTSP)
Prof Oedjoe Djoeriman MSc Phd 1986-1995 (FTI)
Prof Ir Soegiono 1995-2003 (FTK)
Prof Dr Ir M. Nuh DEA 2003-2007 (FTI)
Prof Ir Priyo Suprobo Phd 2007-2011 (FTSP)

Beberapa teman saya sudah ada yang me review 11 bakal calon rektor. Saya sendiri belum me review, tapi sebagian besar saya sependapat dengan review  teman saya , Nana, yang kebetulan Wakahima Himasta.Review nya bisa dilihat disini. Saya sendiri saat ini masih netral dan belum memutuskan akan memilih siapa. Yang pasti saya mengharapkan calon rektor ITS selanjutnya merupakan sosok pemimpin yang visioner, bersahaja, menciptakan lingkungan kampus yang hijau, tidak ada jurusan yang uber alles dari yang lain, dan memberi ruang yang seluas-luasnya kepada mahasiswa. Kalau bisa, syukur menjadi menteri penerus pak Nuh. 🙂

Setelah memantapkan hati dengan pilihan masing2. Maka saatnya mengikuti pelaksanaan jaring pendapat Pilcarek ITS. Berikut lebih lengkapnya mengenai petunjuk pelaksanaan pilcarek : Read the rest of this entry »





PETISI UNTUK ITS

20 03 2010

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan menganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: Lawan!
(Wiji Thukul)

Saya mengenal Yuli, Tommy, dan Benny hanya sesaat. Yuli seorang mahasiswi yang energik dan antusias. Tiap kali bertemu selalu ada yang digelisahkan. Tentang ketidak-adilan atau mahalnya biaya pendidikan. Sedangkan Tommy beberapa waktu lalu mampir ke kantor. Pria muda yang tenang dan sedikit gundah. Mengadukan putusan skorsing yang dikeluarkan oleh kampusnya. Sebuah kampus yang mengantarkan Rektornya menjadi menteri komunikasi. Kampus yang mahir dalam banyak temuan tekhnologi. Kampus yang sepadan derajadnya dengan kampus-kampus ternama lainnya.

Saya beberapa kali mampir ke kampus ITS. Menjadi pembicara pada tempat yang sama. Dari soal BHMN hingga riset. Mahasiswanya pintar, berani dan tertib. Mereka selalu menjemput di bandara dengan kebanggaan. Jas almamater dan berkisah tentang kampusnya. Sebuah tempat yang menyenangkan meski ada kegundahan. Diantara gundah itulah Yuli, Tommy, dan Benny menjadi pemukanya. Mereka merasa perih melihat sikap kampus yang ‘diam’ pada kasus Lapindo. Mereka ingin kampus jadi pembela warga yang jadi korban. Wibawa dan popularitas ITS mustinya mampu berbuat lebih. Tak sekedar riset apalagi sekedar pendataan. Kampus itu semustinya bisa bersuara lantang dan memihak. Yuli, Tommy, dan Benny merasa sukar menerima sikap netral kampus ITS. Apalagi ada kecurigaan kampus mempermainkan korban.

Mustinya ITS beruntung masih punya mahasiswa yang kritis dan bernyali. Harusnya ITS bangga karena ada mahasiswa yang berontak. Atas sebuah situasi yang menyimpan ketidak-adilan. Terhadap kondisi sosial yang hingga kini tak mampu dibereskan. ITS melalui mereka diingatkan kembali tentang tanggung jawab Perguruan Tinggi. Bukan sekedar mengantar seseorang jadi sarjana melainkan juga punya mandat perubahan. Sayangnya ITS memilih untuk tidak bersikap seperti itu. Mereka beranggapan anak-anak belia yang pintar dan kritis ini patut dihukum. Mereka menganggap hukuman skorsing adalah balasan yang setimpal. Agak janggal: Menteri Komunikasi mantan Rektor ITS tampaknya tak bisa mengajarkan pada pewarisnya, ‘cara berkomunikasi’ yang baik.

Rektor baru yang titelnya berderet juga mengambil sikap yang sama. Ternyata benar kepintaran dan kematangan emosi tak bisa bersanding. Gelar Professor bukan memberi petunjuk tentang kearifan. Malah dengan gelar itu ketetapan skorsing tak bisa diubah. Agak menggelikan karena ITS sering menyelenggarakan training ESQ. Training yang digunakan untuk menyambut mahasiswa baru. Sebuah pelatihan yang mendidik orang untuk bisa tabah, sabar dan tawakal. Ternyata hasilnya adalah putusan kasar, naif dan emosional. Tak sedikitpun ada bekas keteduhan dan kematangan emosi. Jangankan itu: ratusan protes yang dikirim tak membuat putusan itu diubah. ITS konsisten untuk memegang ketetapan skorsing. Kampus ini ternyata menyimpan tekhnologi ‘ketidak-pedulian’ yang sempurna.

Mungkin mereka kurang membaca sejarah. Kisah tentang kampus-kampus ternama yang berisikan mahasiswa pemberani. Soal Che Guevara yang menjadi mahasiswa pencetus revolusi Kuba. Negeri yang hari ini dibangun tanpa hutang sepersenpun. Tentang Soekarno yang berani memprotes semua kebijakan kolonial. Amat keterlaluan kalau birokrat ITS tak kenal dengan nama ini. Kisah mengenai mahasiswa Trisakti yang gugur untuk perubahan. Karena tangan mereka-lah Rektor ITS kini menjabat menteri. Melalui siraman darah para aktivis mahasiswa kampus ITS mendapat porsi kekuasaan. Hukuman untuk Yuli, Tommy maupun Benny membawa ITS meluncur mundur. Kampus ini mengulang kembali apa yang dikutuk oleh Sjahrir, Hatta maupun Soekarno. Kampus hanya jadi penyimpan tenaga budak dan tempat yang sunyi dari pergerakan. Andai kampus hidup dengan mesin ketaatan maka lingkungan kampus akan mirip seperti makam.

Tempat dimana mahasiswanya kian lama kian mirip satu sama lain. Belajar terlampau rajin. Kuliah tanpa mengenal kenyataan. Tembok dan bangunan megah hanya seperti sebuah arca. Karena yang menghuni bukan lagi manusia. Pribadi yang semustinya memiliki kepekaan, akal sehat dan solidaritas. Yang tertinggal hanya pribadi yang susah menerima kritik, perbedaan apalagi tuntutan akan tanggung jawab sosial. Pertanyaan yang kemudian terlontar: untuk apa kampus ini terus berjalan? Untuk kegunaan apa kampus ini dibangun secara megah? Jika derita rakyat tidak mampu didengar apalagi dibela. Jika tiga orang mahasiswa yang mengkritik kemudian dihardik dengan hukuman? Saya kadang heran mengapa kampus ini jadi bertindak tidak senonoh.

Tahukah kampus ini tentang Bung Tomo. Pria muda radikal yang mengobarkan revolusi Surabaya. Usianya tak lebih 17 tahun. 12 Oktober 1945 ia mendirikan Radio Pemberontakan di Surabaya. Janjinya luar biasa: ‘rambutnya tak akan dipotong sebelum Indonesia merdeka penuh’. Melalui tangan dan ucapanya pertempuran 10 november jadi membara. Karena perjuangan ia dan beberapa kawanya, kampus ITS berdiri di Surabaya. Tommy, Yuli, Benny dan kawan-kawanya hendak meneruskan apa yang dilakukan oleh Bung Tomo. Meneguhkan sikap merdeka dan melawan segala ketidak-adilan. Sangat disayangkan ITS melayangkan surat hukuman pada ketiganya. Bung Tomo dulu berhadapan dengan NICA. Sekutu yang membonceng dan tak ingin Indonesia merdeka. Kini Tomy dan kawan-kawanya berhadapan dengan orang yang berkulit sawo matang. Pribumi. Bangsanya sendiri. Malah diantaranya adalah gurunya.

Sekali lagi, kita tak bisa diam. ITS mustinya diingatkan kembali akan mandatnya. ITS sebaiknya berkaca pada sejarah. Sejarah dimana pendidikan akan selalu bergulat dengan perubahan sosial. Sejarah dimana kampus tempat melatih dan lahirnya seorang pemimpin. Dan pemimpin muncul ketika dihadapkan pada kenyataan sosial yang pahit. Disana terletak dua pilihan: menjadi kekuatan yang berhamba pada modal atau jadi pembela korban. Tommy, Yuli Benny ingin menjadi yang terakhir. Sayang kampus tak melindungi moralitas yang agung ini. Kampus ITS nyatanya lebih memilih untuk menghukum suara keadilan ini. Kita yang ada di dalam maupun di luar tak boleh sekedar prihatin. Waktunya kita menyatakan perlawanan. Saatnya kita menyerukan apa yang dulu dikerjakan oleh Bung Tomo. Nyatakan tidak terhadap setiap pembungkaman nurani. Kepalkan tangan kita untuk menonjok siapapun yang mencoba mengakimi kebenaran. Sekali lagi: kita jangan diam! Di hadapan kebenaran tak ada sikap netral! []

Ditulis Oleh: Eko Prasetyo

Tulisan tersebut sebagai bentuk solidaritas atas ketidakadilan yang menimpa ketiga mahasiswa ITS (Tommy, Yuli, dan Benny) yang diskorsing selama 2 semester pasca menggelar seminar jalanan: Perselingkuhan Pemodal – Pemerintah – Kampus Dalam Kasus Semburan Lumpur Lapindo pada tanggal 6 Maret 2007 di depan Rektorat ITS

Eko Prasetyo adalah seorang pemerhati pendidikan, penulis beberapa buku seri dilarang miskin (Orang Miskin Dilarang Sekolah, Orang Sakit Dilarang Sekolah) dll

**Tulisan ini saya copy-paste untuk sekedar mengingatkan pada pihak birokrat dan Keluarga Mahasiswa ITS akan sebuah perjuangan dan pengorbanan. Dan untuk sahabatku yang sedang memperjuangkan kebenaran atas ketidakadilan pihak birokrasi (lagi). Semua untuk 1 kata : Idealisme! Yang tak boleh mati (lagi).